Salah satu tahapan penting yang mendapat perhatian dalam kegiatan ini adalah proses pengeringan. Pengeringan bukan sekadar mengurangi kadar air bahan, tetapi juga menentukan warna, aroma, rasa, daya simpan, keamanan, dan kemampuan produk dalam mempertahankan senyawa aktifnya. Suhu yang terlalu tinggi, proses yang terlalu lama, atau tempat pengeringan yang kurang higienis dapat menurunkan kualitas bahan herbal.
Tim pengabdian menjelaskan bahwa produk jamu berkualitas harus dimulai dari pemilihan bahan baku yang baik, pencucian menggunakan air bersih, perajangan dengan ukuran relatif seragam, pengeringan secara terkendali, penghalusan, formulasi, hingga pengemasan dalam wadah yang bersih dan tertutup rapat. Seluruh tahapan tersebut harus dilaksanakan dengan memperhatikan kebersihan pekerja, peralatan, dan lingkungan pengolahan.
Selain memperoleh materi mengenai tanaman obat dan teknik pengeringan, peserta mendapatkan edukasi tentang sanitasi peralatan, pencegahan kontaminasi, konsistensi formulasi, pemilihan kemasan, pelabelan produk, serta penyimpanan bahan herbal. Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya standardisasi mutu agar produk dapat diterima oleh konsumen dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam sesi praktik, masyarakat mempelajari pengolahan jahe, kunyit, temulawak, dan bahan herbal lainnya menjadi produk serbuk. Produk hasil kegiatan dikemas menggunakan wadah tertutup dan dilengkapi label agar lebih bersih, menarik, mudah dikenali, serta memiliki identitas produk yang kuat.
Materi pengembangan usaha difokuskan pada jamu kunyit asam yang dapat dibuat dalam dua bentuk produk, yaitu wedang kunyit asam siap minum dan jamu kunyit asam serbuk siap seduh. Diversifikasi tersebut memungkinkan masyarakat menjangkau dua segmen pasar sekaligus, yaitu konsumen lokal untuk produk siap minum dan pasar yang lebih luas untuk produk serbuk siap seduh.
Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc. selaku ketua tim menyampaikan bahwa penerapan teknologi pengeringan higienis diharapkan dapat membantu masyarakat mempertahankan mutu bahan herbal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
“Jamu berkualitas dimulai dari bahan yang baik, proses yang higienis, dan tempat pengolahan yang bersih. Dari proses yang baik akan lahir produk jamu yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing,” ujarnya.

















