Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia: Tantangan dan Solusi dari dr. Gamal Albinsaid

0
189

Pendidikan merupakan salah satu elemen terpenting dalam membentuk masa depan bangsa. Di Indonesia, kualitas pendidikan telah menjadi perhatian utama bagi banyak pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum. Pada 4 Oktober, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, dr. Gamal Albinsaid, menyampaikan beberapa catatan kritis terkait kondisi pendidikan nasional, menyoroti berbagai masalah yang perlu segera ditangani untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

PISA: Capaian Terendah dalam Sejarah

Salah satu masalah utama yang diangkat oleh dr. Gamal adalah rendahnya hasil Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) yang mencerminkan kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa di Indonesia. Hasil PISA terbaru menunjukkan Indonesia berada di peringkat 69 dari 81 negara, dengan skor yang jauh di bawah target. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa sistem pendidikan Indonesia membutuhkan perbaikan signifikan.

Baca Juga  Netty Prasetiyani Serukan Percepatan Pengesahan RUU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga

Rendahnya hasil PISA ini menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengajaran, yang tidak hanya berfokus pada pemahaman materi, tetapi juga kemampuan analitis siswa. Pembenahan dalam metode pengajaran dan penilaian sangat penting untuk meningkatkan peringkat Indonesia di masa mendatang.

Tingkat Kesejahteraan Guru yang Rendah

Selain masalah capaian siswa, kesejahteraan guru juga menjadi perhatian utama. Dr. Gamal menyoroti bahwa sebagian besar guru, terutama guru honorer, mendapatkan penghasilan di bawah 2 juta rupiah. Hal ini tentu berdampak pada motivasi dan kualitas pengajaran. Gaji yang rendah dapat menyebabkan kurangnya dedikasi guru dalam mendidik siswa dan menurunkan semangat mereka dalam menjalankan tugas.

Sistem insentif yang lebih baik serta peningkatan gaji dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kesejahteraan guru. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan adanya pelatihan berkelanjutan bagi guru untuk memperbaharui metode pengajaran mereka sesuai dengan perkembangan zaman.

Baca Juga  Taman Nasional Way Kambas Kembali Dibuka: Tidak Ada Kegiatan Tunggang Gajah dan Atraksi Demi Kesejahteraan Satwa.

Mindset Tetap (Fixed Mindset) di Kalangan Siswa

Menurut data yang disampaikan oleh dr. Gamal, 71% anak-anak di Indonesia memiliki pola pikir tetap (fixed mindset), yang dapat menghambat pengembangan diri dan potensi akademik mereka. Fixed mindset membuat siswa merasa bahwa kemampuan mereka terbatas dan tidak dapat berkembang lebih jauh. Akibatnya, mereka cenderung tidak berani menghadapi tantangan atau belajar dari kesalahan.