Oleh: H. Agus Mukhandar, M.Pd.I
Penyuluh Agama; Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Da’wah Bandar Lampung
Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan dengan penuh rasa syukur. Bendera Merah Putih dikibarkan, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, dan kisah kepahlawanan para pendiri bangsa kembali dikenang. Semua itu penting agar generasi penerus tidak melupakan besarnya pengorbanan para pejuang yang telah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Pada masa perjuangan dahulu, musuh bangsa sangat jelas. Mereka adalah penjajah yang datang dari luar negeri. Rakyat tidak mengalami kesulitan membedakan mana kawan dan mana lawan. Karena itu, tokoh-tokoh bangsa seperti Jenderal Soedirman, Bung Tomo, Mohammad Natsir, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan para ulama serta pejuang lainnya mampu mengobarkan semangat rakyat untuk bersatu melawan penjajah.
Kini, setelah lebih dari delapan puluh tahun merdeka, situasinya jauh berbeda. Secara konstitusi Indonesia adalah negara yang merdeka dan berdaulat. Namun, tantangan yang dihadapi bangsa bukan lagi penjajahan fisik, melainkan krisis moral, krisis integritas, dan krisis keteladanan.
Musuh bangsa saat ini tidak lagi datang dengan senapan dan meriam. Ia hadir dalam bentuk korupsi, penyalahgunaan jabatan, manipulasi hukum, penyebaran informasi yang membingungkan, politik yang memecah belah, serta berbagai perilaku yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara.
Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai perkara yang melibatkan pejabat publik, baik yang masih dalam proses hukum maupun yang telah diputus oleh pengadilan, sedikit banyak telah memengaruhi kepercayaan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat berharap hukum ditegakkan secara adil. Di sisi lain, masyarakat juga berharap para pemimpin memberikan keteladanan yang baik. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, muncul rasa kecewa, bahkan sebagian orang mulai mempertanyakan apakah cita-cita kemerdekaan benar-benar telah terwujud.
Di sinilah letak tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini. Persoalan yang kita hadapi bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi pembangunan karakter. Jalan tol dapat dibangun dalam hitungan tahun. Gedung-gedung megah dapat berdiri dalam waktu singkat. Namun membangun integritas membutuhkan keteladanan yang terus-menerus.





















