Mengisi Kemerdekaan di Tengah Krisis Keteladanan

0
8

Islam sejak awal telah menjadikan amanah sebagai fondasi kepemimpinan. Allah SWT berfirman:

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58)

Ayat ini memberikan pesan bahwa jabatan bukanlah kehormatan yang boleh dinikmati sesuka hati, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

 “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat. Presiden, menteri, gubernur, bupati, hakim, jaksa, anggota DPR, kepala desa, guru, penyuluh agama, orang tua, hingga pemimpin keluarga, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban sesuai amanah yang dipikul.

Baca Juga  Almuzzammil Yusuf Ajak Majelis Taklim dan KAMMI Perkuat Nilai Kebangsaan melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

Sayangnya, pada era media sosial sekarang, masyarakat lebih sering disuguhi contoh-contoh buruk dibandingkan keteladanan yang membangun. Berbagai pemberitaan mengenai penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan konflik elite silih berganti memenuhi ruang publik. Akibatnya, masyarakat menjadi lelah, bingung, bahkan sebagian kehilangan kepercayaan terhadap institusi negara.

Padahal, kepercayaan adalah modal sosial yang sangat mahal. Negara yang kehilangan kepercayaan rakyat akan menghadapi kesulitan dalam menjalankan berbagai kebijakan. Sebaliknya, negara yang dipimpin oleh orang-orang berintegritas akan memperoleh dukungan masyarakat tanpa harus menggunakan paksaan.

Oleh sebab itu, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari penjajahan asing. Kemerdekaan sejati adalah ketika bangsa ini mampu membebaskan diri dari korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan amanah, kebohongan, serta budaya mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyat.

Baca Juga  Reni Astuti Apresiasi Perjuangan UMKM dalam Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional

Dalam konteks inilah peran tokoh agama, guru, penyuluh agama, pendidik, dan para orang tua menjadi semakin penting. Ketika masyarakat kehilangan figur, mereka membutuhkan nilai. Ketika keteladanan dari sebagian elite melemah, nilai-nilai agama harus tetap menjadi kompas moral bangsa.

Sebagai penyuluh agama, saya sering mengingatkan masyarakat agar jangan mengukur kebenaran agama dari perilaku sebagian pemeluknya. Jika ada pejabat yang menyalahgunakan amanah, jangan salahkan ajaran agamanya. Justru perilaku itulah yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Islam tidak pernah mengajarkan korupsi, kebohongan, maupun pengkhianatan terhadap amanah.