Dalam bukunya, Arsalan mengkritik sikap sebagian kaum Muslimin yang merasa sudah cukup menjadi Muslim hanya dengan menjalankan ibadah ritual. Padahal, Islam juga menuntut pengorbanan harta, tenaga, dan pikiran untuk kepentingan umat. Beliau menegaskan bahwa kemenangan dan kemajuan tidak datang hanya dengan doa. Doa harus dibarengi usaha, kerja keras, dan kesungguhan membangun peradaban. Tanpa itu, umat hanya akan menunggu pertolongan Allah tanpa memenuhi syarat-syaratnya.
Lemahnya Solidaritas dan Dukungan Umat
Arsalan juga mencontohkan peristiwa di Palestina tahun 1929. Saat itu, gerakan Zionis mampu menggalang dana dalam jumlah besar dari berbagai negara untuk membantu kepentingan mereka. Sementara dukungan finansial dari umat Islam sangat kecil. Contoh ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam solidaritas dan kesadaran kolektif umat. Bukan berarti umat Islam tidak religius, tetapi semangat kebersamaan dan pengorbanan untuk proyek besar umat belum kuat.
Pertanyaannya sekarang: apakah analisis ini masih relevan? Jika kita jujur, jawabannya masih terasa “ya”. Meski jumlah umat Islam besar dan kajian agama semakin ramai, tantangan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, dan pengaruh global masih nyata. Artinya, persoalan yang dikritik oleh Amir Syakib Arsalan belum sepenuhnya selesai.






















