Mengapa umat Islam tertinggal, sementara bangsa lain maju? Pertanyaan ini mungkin sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan sendiri. Ternyata, pertanyaan yang sama sudah diajukan lebih dari 90 tahun lalu — dan dijawab secara serius oleh seorang pemikir Muslim dunia, Amir Syakib Arsalan.
Jawaban beliau kemudian dibukukan dengan judul Kenapa Umat Islam Tertinggal? yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar pada tahun 2013. Menariknya, buku ini berasal dari sebuah pertanyaan yang dikirim dari Nusantara pada tahun 1929 dan dimuat di majalah Al-Manar yang diasuh oleh Muhammad Rasyid Ridha. Artinya, kegelisahan tentang kemunduran umat Islam sudah menjadi perhatian sejak lama — termasuk dari Indonesia.
Masalahnya Bukan Sekadar Penjajahan
Banyak orang mungkin langsung menyalahkan penjajahan atau konspirasi Barat sebagai penyebab utama kemunduran umat Islam. Namun, Amir Syakib Arsalan justru melakukan sesuatu yang lebih berani: otokritik. Beliau menilai bahwa salah satu sebab utama kemunduran umat adalah masalah internal. Umat Islam, menurutnya, mulai kehilangan semangat kerja, produktivitas, dan tanggung jawab sosial. Agama dipahami sebatas ibadah pribadi — shalat, puasa, zikir — tetapi kurang diterjemahkan dalam bentuk kerja nyata membangun kekuatan ekonomi, pendidikan, dan peradaban.






















