Emas, Geopolitik Global, dan Posisi Strategis Indonesia di Selat Sunda

0
19

Emas, Geopolitik Global, dan Posisi Strategis Indonesia di Selat Sunda

Oleh: Linda Wuni
Alumni PPRA 64 Lemhannas RI & Tenaga Ahli Komisi I DPRD Provinsi Lampung

Dunia sedang bergerak menuju fase geopolitik yang semakin keras dan transaksional. Rivalitas
kekuatan besar, konflik regional yang berkepanjangan, serta penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan politik telah mengubah wajah tatanan global. Dalam situasi seperti ini, stabilitas ekonomi tidak lagi netral; ia menjadi bagian dari pertarungan geopolitik.

Kenaikan harga emas dunia yang terus mencetak rekor harus dibaca dalam kerangka ini. Emas bukan sekadar komoditas, melainkan indikator ketidakpercayaan global terhadap sistem keuangan internasional yang terlalu bergantung pada satu mata uang dan satu pusat kekuatan. Ketika sanksi ekonomi digunakan sebagai senjata geopolitik, negara-negara mulai mencari aset yang tidak bisa
dibekukan, ditekan, atau dikendalikan secara sepihak. Emas menjawab kebutuhan itu.

Baca Juga  PERLUKAH KARYAWAN MENGIKUTI PENGAJIAN?

Geopolitik Global dan Kembalinya Emas

Di tingkat global, dunia sedang bergerak dari tatanan unipolar menuju multipolar. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan utama, tetapi China, Rusia, dan negara-negara Global South semakin aktif
membangun poros alternatif. Konflik Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga rivalitas di Indo-Pasifik menunjukkan bahwa risiko geopolitik bukan lagi pengecualian, melainkan kondisi permanen.

Dalam konteks ini, emas mengalami reposisi strategis. Bank sentral di berbagai negara meningkatkan cadangan emas sebagai bentuk perlindungan terhadap volatilitas global dan potensi tekanan politik. Tren dedolarisasi—meski berlangsung perlahan—menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap sistem keuangan global sedang diuji. Negara yang memiliki cadangan emas kuat memiliki ruang manuver
lebih luas dalam menghadapi tekanan eksternal.