Site icon Informasi Berita Rujukan Masyarakat Lampung

Emas, Geopolitik Global, dan Posisi Strategis Indonesia di Selat Sunda

Emas, Geopolitik Global, dan Posisi Strategis Indonesia di Selat Sunda

Oleh: Linda Wuni
Alumni PPRA 64 Lemhannas RI & Tenaga Ahli Komisi I DPRD Provinsi Lampung

Dunia sedang bergerak menuju fase geopolitik yang semakin keras dan transaksional. Rivalitas
kekuatan besar, konflik regional yang berkepanjangan, serta penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan politik telah mengubah wajah tatanan global. Dalam situasi seperti ini, stabilitas ekonomi tidak lagi netral; ia menjadi bagian dari pertarungan geopolitik.

Kenaikan harga emas dunia yang terus mencetak rekor harus dibaca dalam kerangka ini. Emas bukan sekadar komoditas, melainkan indikator ketidakpercayaan global terhadap sistem keuangan internasional yang terlalu bergantung pada satu mata uang dan satu pusat kekuatan. Ketika sanksi ekonomi digunakan sebagai senjata geopolitik, negara-negara mulai mencari aset yang tidak bisa
dibekukan, ditekan, atau dikendalikan secara sepihak. Emas menjawab kebutuhan itu.

Geopolitik Global dan Kembalinya Emas

Di tingkat global, dunia sedang bergerak dari tatanan unipolar menuju multipolar. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan utama, tetapi China, Rusia, dan negara-negara Global South semakin aktif
membangun poros alternatif. Konflik Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga rivalitas di Indo-Pasifik menunjukkan bahwa risiko geopolitik bukan lagi pengecualian, melainkan kondisi permanen.

Dalam konteks ini, emas mengalami reposisi strategis. Bank sentral di berbagai negara meningkatkan cadangan emas sebagai bentuk perlindungan terhadap volatilitas global dan potensi tekanan politik. Tren dedolarisasi—meski berlangsung perlahan—menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap sistem keuangan global sedang diuji. Negara yang memiliki cadangan emas kuat memiliki ruang manuver
lebih luas dalam menghadapi tekanan eksternal.

Indonesia tidak berada di luar pusaran ini. Sebagai negara besar dengan posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia berada di jalur persilangan kepentingan global. Ketahanan ekonomi nasional karenanya menjadi prasyarat penting bagi kemandirian politik luar negeri. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, prinsip bebas aktif akan sulit dijalankan secara konsisten.

Indonesia: Kaya Sumber Daya, Terbatas Instrumen Strategis

Indonesia memiliki cadangan emas alam yang besar, tetapi cadangan emas moneter yang dimiliki negara masih relatif kecil. Paradoks ini menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan emas sebagai instrumen strategis negara. Padahal, dalam konteks geopolitik global yang semakin keras, cadangan emas bukan hanya soal stabilitas moneter, tetapi juga soal daya tawar dan kredibilitas nasional.

Dalam perspektif ketahanan nasional, kedaulatan ekonomi adalah bagian integral dari ketahanan negara. Negara yang lemah dalam instrumen ekonominya akan mudah terpengaruh oleh tekanan global, baik melalui fluktuasi pasar, sanksi ekonomi, maupun tekanan politik terselubung. Karena itu, penguatan cadangan emas nasional perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar ketahanan nasional Indonesia.

Lampung, Selat Sunda, dan Dimensi Geopolitik Wilayah

Analisis geopolitik tidak berhenti di tingkat global. Ia selalu berujung pada ruang geografis konkret. Provinsi Lampung memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di mulut Selat Sunda—salah satu choke point penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Jawa. Jalur ini bukan hanya jalur ekonomi, tetapi juga jalur strategis pertahanan dan keamanan. Selat Sunda menjadi bagian dari arsitektur logistik nasional dan regional. Pelabuhan Panjang dan Bakauheni memainkan peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang, energi, dan mobilitas ekonomi antara Sumatra dan Jawa. Dalam situasi krisis global, gangguan pada jalur-jalur strategis seperti ini dapat berdampak sistemik terhadap stabilitas nasional. Stabilitas moneter dan ketahanan ekonomi nasional memiliki korelasi langsung dengan stabilitas wilayah strategis seperti Lampung. Ketika nilai rupiah tertekan dan ekonomi nasional terguncang, daerah-daerah simpul logistik akan menjadi titik sensitif. Karena itu, penguatan instrumen ekonomi nasional—termasuk cadangan emas—tidak bisa dilepaskan dari kepentingan wilayah strategis.

Arah Strategi yang Perlu Ditempuh

Pertama, Indonesia perlu meningkatkan cadangan emas nasional secara bertahap dan konsisten sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan geopolitik global. Langkah ini bukan reaksi sesaat, melainkan investasi strategis jangka panjang.

Kedua, integrasi kebijakan emas dengan hilirisasi sumber daya alam harus diperkuat. Emas hasil tambang nasional perlu dikelola tidak hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai cadangan strategis negara.

Ketiga, penguatan koordinasi pusat dan daerah, terutama di wilayah strategis seperti Lampung,
menjadi keharusan. Ketahanan nasional selalu dibangun dari daerah-daerah yang stabil, kuat, dan terintegrasi dalam kebijakan nasional.

Keempat, menempatkan Selat Sunda sebagai bagian dari kalkulasi geopolitik dan ekonomi nasional. Jalur ini harus dipahami bukan hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai aset strategis negara dalam menghadapi dinamika global.

Sebagai Tenaga Ahli Komisi I DPRD Provinsi Lampung, saya memandang bahwa isu emas, geopolitik, dan wilayah strategis tidak dapat dipisahkan. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia tidak cukup hanya kaya sumber daya. Indonesia harus mampu mengonversi kekayaan itu menjadi kekuatan strategis.

Emas hari ini adalah simbol kepercayaan dan alat tawar geopolitik. Lampung, dengan posisinya di Selat Sunda, adalah bagian penting dari denyut strategis tersebut. Ketika Indonesia mampu menyatukan kebijakan ekonomi, geopolitik, dan wilayah strategis, di situlah kedaulatan ekonomi benar-benar menemukan maknanya.

Bandar Lampung, 22 Januari 2026

Exit mobile version