“Wahai segenap manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, jagalah hubungan baik kekeluargaan (silaturrahim), dan shalatlah di malam hari saat manusia terlelap tidur. Maka kalian akan masuk surga dengan damai.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi)
Hadis ini disampaikan kepada Abdullah bin Salam, seorang pendeta Yahudi di Madinah yang kemudian memeluk Islam tidak lama setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah. Ketika pertama kali mendengar pesan Nabi tersebut, Abdullah bin Salam merasakan bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah bukanlah ajaran yang penuh kebencian atau permusuhan, melainkan ajaran yang membangun kemanusiaan dan persaudaraan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam hadis ini Rasulullah tidak langsung memulai dengan perintah ibadah ritual. Nabi justru memulai dengan membangun fondasi sosial umat: menyebarkan salam, memberi makan kepada sesama, dan menjaga silaturahim. Setelah itu barulah disebutkan ibadah pribadi seperti shalat malam.
Susunan pesan ini memberikan pelajaran penting bahwa membangun umat tidak bisa dimulai hanya dari ritual individual semata, tetapi harus dimulai dari ukhuwah—persaudaraan yang hidup di tengah masyarakat. Ketika hati manusia saling terhubung, saling peduli, dan saling menolong, maka ibadah akan tumbuh dalam suasana yang penuh kedamaian.
Dalam Islam, persaudaraan bukan sekadar hubungan sosial biasa. Islam mengenal konsep ukhuwah, yaitu ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar iman kepada Allah. Persaudaraan ini melampaui batas suku, daerah, organisasi, bahkan latar belakang pendidikan. Seorang muslim dipandang sebagai saudara bagi muslim lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang beriman itu bersaudara.
Namun dalam kenyataan kehidupan umat hari ini, nilai ukhuwah sering kali justru terabaikan. Perbedaan kecil dalam pemahaman agama tidak jarang berubah menjadi pertengkaran panjang, bahkan sampai pada saling menyalahkan, melabeli sesat, atau mudah mengkafirkan. Padahal Islam mengajarkan bahwa menjaga persaudaraan adalah bagian penting dari kesempurnaan iman.
Ukhuwah Dimulai dari Saling Mengenal
Dalam Islam, ukhuwah tidak hadir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui beberapa tahapan. Pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Dengan saling mengenal, seseorang dapat memahami latar belakang, keadaan, dan karakter saudaranya. Tanpa proses ini, hubungan sosial sering kali dipenuhi prasangka.






















