Dari Limbah Daun Cengkeh Menjadi Produk Bernilai: Tim Unila Diseminasikan Teknologi Eugenol di Pringsewu

0
5

PRINGSEWU, 6 September 2026 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung (Unila) melaksanakan kegiatan Diseminasi Hasil Riset Pemisahan Eugenol Berbasis Limbah Daun Cengkeh sebagai Analgesik dan Antibakteri di Pekon Pardasuka Selatan, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, Minggu (6/9/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendiseminasikan hasil riset perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya pemanfaatan limbah daun cengkeh sebagai sumber minyak atsiri yang mengandung eugenol, sehingga bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang mempunyai manfaat sekaligus nilai ekonomi.

Kegiatan dibuka dan dihadiri oleh Kepala Pekon Pardasuka Selatan, Safrizal, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Pekon Pardasuka Selatan dan Ketua Karang Taruna, dr. Subhan. Kegiatan diikuti masyarakat, anggota PKK, pemuda, serta kelompok masyarakat Pekon Pardasuka Selatan.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unila diketuai Dr. Agung Kiswandono, M.Sc. dari Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung, dengan anggota Dr. Jamiatul Akmal, S.T., M.T. dari Teknik Mesin, Dr. Rinawati, S.Si., M.Si. dari Jurusan Kimia FMIPA, Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si. dari Agribisnis Fakultas Pertanian, serta Wayan Gracias, S.Pd., M.Sc. dari Jurusan Kimia FMIPA.

Membawa Hasil Riset dari Laboratorium ke Masyarakat

Ketua tim, Dr. Agung Kiswandono, menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian ini diarahkan untuk membawa hasil penelitian agar tidak berhenti pada tataran laboratorium, tetapi dapat diperkenalkan dan diterapkan secara sederhana di masyarakat.

Daun cengkeh memiliki potensi sebagai bahan baku minyak atsiri dengan eugenol sebagai salah satu komponen pentingnya. Eugenol memiliki sejumlah potensi biologis, antara lain sebagai antibakteri, analgesik, antiinflamasi, dan antioksidan.

Baca Juga  RESMI TERAKREDITASI, LPH BSPJI BANDAR LAMPUNG MULAI LAYANI SERTIFIKASI PRODUK HALAL

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh penjelasan sekaligus menyaksikan secara langsung proses pengolahan daun cengkeh melalui destilasi. Proses ini menjadi tahapan penting untuk memperoleh minyak atsiri dari daun cengkeh sebelum dilakukan proses pemisahan lebih lanjut terhadap kandungan eugenolnya.

Rinawati: Memahami Proses Destilasi Daun Cengkeh

Dr. Rinawati, S.Si., M.Si. menjelaskan kepada peserta mengenai prinsip dan tahapan proses destilasi daun cengkeh, mulai dari penyiapan bahan, pemanasan, pembentukan uap yang membawa komponen volatil, proses kondensasi, hingga diperolehnya hasil destilasi.

Melalui demonstrasi langsung, masyarakat dapat melihat bagaimana daun cengkeh yang selama ini memiliki nilai relatif rendah dapat diproses untuk menghasilkan minyak atsiri.

Materi diseminasi juga menunjukkan bahwa minyak atsiri yang diperoleh dari destilasi masih mengandung campuran berbagai senyawa. Karena itu, untuk memperoleh eugenol dengan tingkat kemurnian lebih tinggi diperlukan tahapan pemisahan atau isolasi lebih lanjut.

Jamiatul Akmal: Teknologi Perlu Dibuat Sederhana dan Ekonomis

Sementara itu, Dr. Jamiatul Akmal, S.T., M.T. memberikan penjelasan dari aspek rekayasa dan desain alat destilasi.

Menurutnya, salah satu tantangan agar teknologi tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat adalah bagaimana perangkat destilasi dapat didesain pada skala rumah tangga dengan konstruksi yang lebih sederhana, mudah dioperasikan, tetapi tetap mampu menjalankan proses destilasi secara efektif.

Pengembangan alat pada skala yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat menjadi penting agar investasi peralatan dan biaya operasional tidak terlalu tinggi. Dengan demikian, teknologi pengolahan daun cengkeh memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi oleh rumah tangga atau kelompok usaha masyarakat.

Baca Juga  Data Lebih Akurat, Kebijakan Lebih Tepat! BPS Pesawaran Dorong Statistik Sektoral Berkualitas

Teguh Endaryanto: Limbah Daun Cengkeh Memiliki Nilai Ekonomi

Dari perspektif agribisnis, Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si. menekankan nilai ekonomi dari pemanfaatan limbah daun cengkeh.

Daun cengkeh yang sebelumnya dianggap sebagai limbah atau hasil samping dapat menjadi bahan baku minyak atsiri dengan kandungan eugenol. Perubahan dari bahan yang bernilai rendah menjadi produk olahan tersebut menciptakan peluang peningkatan nilai tambah di tingkat masyarakat.

<span;>> “Yang menarik bukan hanya bagaimana daun cengkeh dapat didestilasi, tetapi bagaimana sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah dapat mempunyai nilai ekonomi. Ketika daun cengkeh dapat diolah menjadi minyak atsiri yang mengandung eugenol dan selanjutnya dimanfaatkan menjadi produk, di situ terjadi penciptaan nilai tambah.”

Menurut Teguh, pengembangan ke arah usaha masyarakat selanjutnya perlu memperhatikan ketersediaan dan kontinuitas bahan baku, rendemen hasil, biaya produksi, kapasitas alat, kualitas produk, harga jual, serta pasar. Dengan perhitungan tersebut dapat diketahui apakah teknologi yang secara teknis dapat dilakukan juga layak dikembangkan secara ekonomi.

Dipraktikkan Menjadi Sabun Cuci Piring Antibakteri

Kegiatan tidak berhenti pada demonstrasi proses destilasi. Peserta juga mempraktikkan pembuatan sabun cuci piring.

Hasil ekstraksi daun cengkeh kemudian ditambahkan ke dalam formulasi sabun yang dibuat bersama masyarakat, sehingga dihasilkan sabun cair cuci piring antibakteri berbasis ekstrak daun cengkeh.

Praktik ini menjadi contoh konkret hilirisasi sederhana yang mudah dipahami masyarakat:

Limbah daun cengkeh → destilasi → minyak atsiri/ekstrak mengandung eugenol → formulasi sabun → sabun cuci piring antibakteri → produk bernilai tambah.

Baca Juga  Oknum Brimob Diduga Terlibat Kepemilikan Gudang Penimbunan BBM

Eugenol sendiri memiliki potensi antibakteri melalui sejumlah mekanisme yang berkaitan dengan gangguan terhadap struktur dan fungsi sel bakteri.

Dengan praktik langsung tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kandungan dan manfaat daun cengkeh, tetapi juga memperoleh gambaran bagaimana hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi produk rumah tangga yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai produk ekonomi masyarakat.

Kolaborasi Menuju Hilirisasi Berbasis Potensi Lokal

Kepala Pekon Pardasuka Selatan, Safrizal, menyambut baik pelaksanaan kegiatan karena memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan potensi lokal.

Kegiatan ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi multidisiplin. Ilmu kimia berperan dalam memahami proses ekstraksi, destilasi dan kandungan eugenol; teknik mesin mendukung pengembangan alat yang sederhana dan ekonomis; sementara agribisnis melihat kelayakan ekonomi, nilai tambah, dan peluang pengembangan produknya.

Sinergi Universitas Lampung, Pemerintah Pekon Pardasuka Selatan, PKK, Karang Taruna, dan masyarakat diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi pengembangan pemanfaatan daun cengkeh secara lebih produktif.

Dengan demikian, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menjadi kegiatan transfer pengetahuan, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan riset → teknologi tepat guna → produk → nilai tambah → peluang usaha masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi implementasi semangat Kampus Berdampak, yaitu menghadirkan hasil penelitian perguruan tinggi agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan berkontribusi terhadap pemanfaatan sumber daya lokal secara produktif dan berkelanjutan.