AGRIBISNIS UNILA LATIH APARATUR DESA PASURUAN PETAKAN POTENSI DAN PERKUAT KELEMBAGAAN DESA

0
6

*AGRIBISNIS UNILA LATIH APARATUR DESA PASURUAN PETAKAN POTENSI DAN PERKUAT KELEMBAGAAN DESA*

Lampung Selatan — Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan kali ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pemetaan potensi desa berbasis koordinat geospasial menggunakan Google Maps yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Jika pada kegiatan sebelumnya peserta diperkenalkan dengan identifikasi potensi desa dan praktik penitikan lokasi menggunakan Google Maps, kegiatan lanjutan diarahkan pada pemanfaatan hasil pemetaan tersebut untuk menentukan potensi prioritas serta memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat desa.

Pelatihan diikuti oleh aparatur Pemerintah Desa Pasuruan dan para kepala dusun. Kegiatan disambut oleh Kepala Desa Pasuruan Sumali, S.M., bersama Sekretaris Desa Sugeng.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Agribisnis FP Universitas Lampung diketuai oleh Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S., dengan anggota Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si.; Dr. Novi Rosanti, S.P., M.E.P.; Dian Rahmalia, S.P., M.Si.; dan I Ranni Mellya Sari, S.P., M.Si. Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa Jurusan Agribisnis sebagai bagian dari proses pembelajaran dan keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.

Dari Belajar Memetakan hingga Membaca Potensi Desa

Pelatihan dirancang tidak hanya berupa penyampaian materi di dalam ruangan. Peserta sebelumnya telah mendapatkan praktik bagaimana menentukan titik koordinat suatu objek, mencatat latitude dan longitude, serta memasukkan informasi lokasi penting ke dalam basis data desa menggunakan Google Maps.

Objek yang dipetakan meliputi lokasi pemerintahan, kegiatan ekonomi dan UMKM, sentra pertanian, fasilitas pelayanan masyarakat, pendidikan, perdagangan, serta berbagai potensi lain yang penting bagi pembangunan Desa Pasuruan. Setiap lokasi diarahkan untuk memiliki data nama objek, kategori dan koordinat geografis.

Baca Juga  Upaya Terbaru Andre Taulany untuk Bercerai dari Erin

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa delapan dusun di Desa Pasuruan mempunyai karakteristik potensi yang berbeda. Delapan wilayah tersebut meliputi Dusun Banyumas, Jati Bening, Jati Rejo, Jati Sari, Pasuruan Atas, Pasuruan Bawah, Sendang Sari, dan Sumber Sari.

Karena itu, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat titik pada peta.

Peta menjadi pintu masuk untuk menjawab pertanyaan yang lebih penting: potensi apa yang dimiliki setiap dusun, siapa pelakunya, bagaimana potensi tersebut dikelola, dan bagaimana meningkatkan nilai tambahnya bagi masyarakat.

Potensi Nyata Dusun Menjadi Bahan Pelatihan

Agar pelatihan tidak berhenti pada teori, peserta diajak menggunakan kondisi nyata masing-masing dusun sebagai bahan pembelajaran dan diskusi.

Di Dusun Banyumas, misalnya, terdapat sekitar 8 hektare sawah, budidaya lele, ayam kampung, puyuh, sapi dan kambing. Dusun ini juga mempunyai berbagai kegiatan ekonomi seperti penyedia pakan ternak, pedagang makanan, warung kelontong, kerajinan tapis dan rajut, panglong kayu serta berbagai usaha jasa.

Peserta kemudian diajak melihat kemungkinan keterhubungan antarpotensi tersebut. Peternakan dan perikanan tidak hanya dilihat sebagai kegiatan produksi, tetapi dapat dihubungkan dengan penyedia pakan, pengolahan hasil, pedagang makanan hingga pasar konsumen.

Di Dusun Jati Sari, terdapat sekitar 20 hektare lahan pertanian, kegiatan perikanan yang melibatkan delapan rumah tangga dan peternakan 15 rumah tangga. Dusun tersebut juga mempunyai tiga penggilingan padi serta berbagai kegiatan UMKM dan jasa.

Potensi tersebut menjadi contoh dalam pelatihan mengenai bagaimana komoditas pertanian dapat dikembangkan dari sekadar produksi menjadi rantai nilai:

Padi → Gabah → Penggilingan → Beras → Pengemasan → Merek → Pemasaran.

Baca Juga  5 Alasan yang Membuat SMAIT Permata Bunda Pilihan Terbaik untuk Pendidikan Anak Anda

Sementara itu, Dusun Sendang Sari mempunyai sawah, jagung, perikanan dan peternakan serta beragam usaha pengolahan pangan. Salah satu yang menarik adalah terdapat sembilan rumah tangga pelaku usaha kue tampah, selain usaha tempe, keripik pisang dan kembang goyang.

Contoh tersebut digunakan untuk mendiskusikan kemungkinan penguatan kelembagaan pelaku UMKM melalui pembelian bahan baku, peningkatan kualitas, pengemasan, katalog produk, promosi digital dan pemasaran secara lebih terkoordinasi.

Dusun Sumber Sari juga memiliki potensi yang kuat pada sektor pangan, dengan sawah sekitar 20 hektare, jagung sekitar empat hektare, perikanan, lebah Trigona serta peternakan sapi, kerbau, kambing dan ayam. Di dusun ini juga tercatat keberadaan UMKM aneka kue, penggilingan padi serta MBG/SPPG.

Kondisi tersebut menjadi bahan diskusi mengenai kemungkinan membangun keterhubungan antara produksi pangan lokal dengan kebutuhan pasar di sekitar desa, dengan tetap memperhatikan kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan dan persyaratan yang berlaku.

Peta Potensi Harus Berlanjut Menjadi Peta Ekonomi Desa

Tim pengabdian menekankan bahwa pemetaan geospasial bukan tujuan akhir kegiatan. Data lokasi perlu dikombinasikan dengan informasi mengenai pelaku usaha, kapasitas produksi, kelembagaan, pasar, permasalahan dan peluang pengembangan.

Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si. menjelaskan bahwa desa perlu bergerak dari sekadar mengetahui potensi menuju kemampuan mengelola potensi tersebut.

“Peta memberi tahu kita di mana potensi berada. Tetapi kelembagaan menentukan apakah potensi itu dapat dikelola bersama, dikembangkan nilai tambahnya, dihubungkan dengan pasar, dan akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, delapan dusun di Desa Pasuruan tidak perlu dilihat sebagai delapan wilayah ekonomi yang berdiri sendiri. Pemetaan justru dapat digunakan untuk melihat keterhubungan antardusun.

Baca Juga  Wulan Guritno Gugat Mantan Kekasih Sabda Ahessa Ratusan Juta

Dusun yang mempunyai basis produksi pertanian dapat dihubungkan dengan wilayah yang memiliki pengolahan, perdagangan dan pasar. Salah satu contohnya adalah Pasuruan Atas, yang selain mempunyai kegiatan pertanian dan peternakan juga memiliki sekitar 30 kios/toko, sejumlah bengkel, kios pupuk serta Pasar Desa Pasuruan.

Dengan demikian, peserta dilatih untuk mulai melihat Desa Pasuruan sebagai satu sistem ekonomi desa yang saling terhubung.

Dari Peta Menuju Rencana Aksi

Pada sesi penguatan kelembagaan, peserta diajak mengidentifikasi kelembagaan yang telah ada, pembagian peran, administrasi kelompok, kegiatan usaha, jejaring kemitraan dan keberlanjutan. Materi pelatihan menggunakan pendekatan 5K, yaitu Kelembagaan, Kepengurusan, Kegiatan, Kemitraan, dan Keberlanjutan.

Peserta juga diajak memilih potensi yang paling realistis dikembangkan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia, peluang pasar dan potensi nilai tambah.

Dengan pendekatan tersebut, rangkaian pelatihan membentuk proses:

IDENTIFIKASI POTENSI → PENITIKAN KOORDINAT → PEMETAAN → DATABASE DESA → PEMILIHAN POTENSI PRIORITAS → PENGUATAN KELEMBAGAAN → NILAI TAMBAH → PASAR → RENCANA AKSI

Tim berharap hasil pelatihan tidak berhenti menjadi peta atau dokumen. Data yang telah dihimpun dapat terus diperbarui oleh pemerintah desa dan dikembangkan menjadi basis data potensi ekonomi Desa Pasuruan untuk mendukung perencanaan pembangunan desa yang semakin berbasis data.

Pada akhirnya, keberhasilan pemetaan desa bukan ditentukan oleh banyaknya titik yang berhasil dimasukkan ke dalam Google Maps, tetapi oleh kemampuan masyarakat menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan dan mengembangkan potensi secara bersama.

“Dari peta kita mengetahui potensi. Dari kelembagaan kita menggerakkan potensi. Dan dari kerja bersama, potensi desa diharapkan tumbuh menjadi nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.”