Site icon Informasi Berita Rujukan Masyarakat Lampung

Ukhuwah Islamiyah: Syarat Awal Membangun Peradaban

“Wahai segenap manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, jagalah hubungan baik kekeluargaan (silaturrahim), dan shalatlah di malam hari saat manusia terlelap tidur. Maka kalian akan masuk surga dengan damai.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi)

Hadis ini disampaikan kepada Abdullah bin Salam, seorang pendeta Yahudi di Madinah yang kemudian memeluk Islam tidak lama setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah. Ketika pertama kali mendengar pesan Nabi tersebut, Abdullah bin Salam merasakan bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah bukanlah ajaran yang penuh kebencian atau permusuhan, melainkan ajaran yang membangun kemanusiaan dan persaudaraan.

Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam hadis ini Rasulullah tidak langsung memulai dengan perintah ibadah ritual. Nabi justru memulai dengan membangun fondasi sosial umat: menyebarkan salam, memberi makan kepada sesama, dan menjaga silaturahim. Setelah itu barulah disebutkan ibadah pribadi seperti shalat malam.

Susunan pesan ini memberikan pelajaran penting bahwa membangun umat tidak bisa dimulai hanya dari ritual individual semata, tetapi harus dimulai dari ukhuwah—persaudaraan yang hidup di tengah masyarakat. Ketika hati manusia saling terhubung, saling peduli, dan saling menolong, maka ibadah akan tumbuh dalam suasana yang penuh kedamaian.

Dalam Islam, persaudaraan bukan sekadar hubungan sosial biasa. Islam mengenal konsep ukhuwah, yaitu ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar iman kepada Allah. Persaudaraan ini melampaui batas suku, daerah, organisasi, bahkan latar belakang pendidikan. Seorang muslim dipandang sebagai saudara bagi muslim lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang beriman itu bersaudara.

Namun dalam kenyataan kehidupan umat hari ini, nilai ukhuwah sering kali justru terabaikan. Perbedaan kecil dalam pemahaman agama tidak jarang berubah menjadi pertengkaran panjang, bahkan sampai pada saling menyalahkan, melabeli sesat, atau mudah mengkafirkan. Padahal Islam mengajarkan bahwa menjaga persaudaraan adalah bagian penting dari kesempurnaan iman.

Ukhuwah Dimulai dari Saling Mengenal
Dalam Islam, ukhuwah tidak hadir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui beberapa tahapan. Pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Dengan saling mengenal, seseorang dapat memahami latar belakang, keadaan, dan karakter saudaranya. Tanpa proses ini, hubungan sosial sering kali dipenuhi prasangka.

Tahapan berikutnya adalah ta’aluf, yaitu tumbuhnya rasa kedekatan dan kasih sayang. Setelah itu ada tafahum, yaitu saling memahami. Pada tahap ini seseorang belajar melihat perbedaan dengan kepala dingin, tidak mudah tersinggung, dan tidak terburu-buru menghakimi.

Persaudaraan kemudian berkembang menjadi ri’ayah dan tafaqud, yaitu saling memperhatikan keadaan saudaranya. Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya menghadapi kesulitan sendirian. Dari sini lahirlah ta’awun, yaitu saling tolong-menolong dalam kebaikan, hingga mencapai tanashur, yaitu saling membela ketika ada kezaliman. Tahapan-tahapan ini menunjukkan bahwa ukhuwah adalah proses yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kedewasaan dalam bersikap.

Hak-Hak dalam Persaudaraan
Islam juga mengajarkan bahwa persaudaraan memiliki hak-hak yang harus dijaga. Di antaranya adalah menutupi aib saudara, membela ketika ia digunjing, memaafkan kesalahannya, serta membantu ketika ia membutuhkan.

Seorang muslim juga diperintahkan untuk menjaga rahasia saudaranya, memanggilnya dengan panggilan yang baik, memberikan nasihat dengan cara yang lembut, serta mendoakan kebaikannya baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafat.

Hak-hak ini menunjukkan bahwa ukhuwah bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tanggung jawab moral. Persaudaraan harus tercermin dalam tindakan nyata yang menjaga kehormatan dan martabat sesama muslim.

Ketika Ukhuwah Digantikan oleh Fanatisme
Sayangnya, dalam kehidupan umat Islam saat ini, nilai ukhuwah sering tergantikan oleh fanatisme kelompok. Sebagian orang lebih sibuk mencari kesalahan kelompok lain daripada memperbaiki diri sendiri. Perbedaan pendapat dalam masalah fiqh atau tradisi keagamaan sering dijadikan alasan untuk melabeli orang lain dengan berbagai cap negatif.

Tidak sedikit pula yang dengan mudah menuduh amalan tertentu sebagai bid’ah tanpa memahami konteksnya secara mendalam. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrem, ada yang berani mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan pandangan.

Sikap seperti ini tentu sangat berbahaya. Selain menimbulkan perpecahan di tengah umat, ia juga bertentangan dengan semangat ukhuwah yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menilai orang lain, karena kesalahan dalam menghakimi bisa berakibat sangat besar.

Perselisihan dalam pemahaman agama memang tidak bisa dihindari, karena perbedaan cara memahami teks agama telah ada sejak masa para ulama terdahulu. Namun perbedaan itu seharusnya menjadi ruang dialog dan saling belajar, bukan menjadi alasan untuk saling menyingkirkan.

Merawat Ukhuwah sebagai Tanggung Jawab Bersama
Di tengah dunia yang penuh dengan konflik dan perpecahan, nilai ukhuwah Islamiyah justru menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali. Persaudaraan harus diletakkan di atas kepentingan kelompok, organisasi, atau mazhab.

Seorang muslim yang memahami ukhuwah tidak akan mudah mencela saudaranya, apalagi merendahkan keyakinan orang lain. Ia akan lebih memilih memperbaiki diri, menebarkan kebaikan, serta membangun hubungan yang penuh dengan kasih sayang.

Pada akhirnya, kekuatan umat Islam tidak terletak pada banyaknya kelompok atau kerasnya perdebatan, tetapi pada kemampuan untuk menjaga persaudaraan. Ketika ukhuwah dijaga dengan baik, perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekayaan yang memperkaya kehidupan umat.

Ukhuwah Islamiyah adalah jembatan yang menyatukan hati. Tanpa ukhuwah, umat akan mudah terpecah. Tetapi dengan ukhuwah yang kuat, umat Islam akan mampu berdiri bersama menghadapi berbagai tantangan zaman.

Oleh: Farizal, SEI., ME
(Pengurus Dewan Dakwah Lampung)

Exit mobile version