Lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi: Cap tangan ‘serupa cakar’ berusia 67.800 tahun

0
10

Pelaut ulung

Temuan lukisan tertua di Gua Metanduno ini juga memperkuat bukti bahwa wilayah Wallacea punya peran sentral dalam sejarah seni dan migrasi Homo sapiens.

Wallacea merupakan wilayah kepulauan Indonesia bagian tengah yang berada di antara Asia dan Australia. Wilayah ini meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Lebih dari 65 ribu tahun lalu, permukaan air laut sekitar 50 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kalimantan (Borneo), Sumatra, dan Jawa masih menyatu dengan daratan Asia.

Namun Sulawesi di wilayah Wallacea selalu dikelilingi laut dalam. Ia tak pernah tersambung dengan daratan, baik dengan bagian barat Asia maupun bagian timur Australia.

Selama ini, Wallacea diperkirakan hanya menjadi jalur manusia purba menuju Australia.

“Kalau kita bicara soal migrasi manusia, kita harus melihat dalam konteks global,” kata Basran Burhan.

Manusia modern awal, kata Basran, sudah ada di Sumatra antara 63.000 hingga 73.000 tahun lalu. Ini dibuktikan dengan temuan gigi Homo Sapiens di Gua Lida Ajer, di Sumatra Barat.

Peninggalan Homo Sapiens lain juga ditemukan di daratan Sahul, yaitu gabungan Australia dan Papua Nugini, yang diperkirakan berusia sekitar 65.000 tahun lalu.

“Artinya, untuk sampai ke sini [Sulawesi], mereka harus melewati jalur laut,” kata Basran, tak mungkin hanya berjalan kaki.

Berbagai temuan di Sulawesi juga membuktikan dua hal: nenek moyang kita adalah pelaut ulung dan Nusantara adalah salah satu tempat lahir tradisi penjelajahan laut manusia.

Mereka kemungkinan menyeberang dari Kalimantan Timur ke Sulawesi menggunakan rakit sederhana atau perahu lesung.

Ilustrasi: Nelayan di Sulawesi.© Dedi Andrianto/Getty Images

“Sangat kecil kemungkinan mereka sampai ke sini secara kebetulan, misalnya tersapu tsunami. [Migrasi] ini direncanakan dengan baik, menggunakan transportasi laut,” kata Basran.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo Bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Gedung Putih

Meski tidak pernah menyatu dengan daratan Asia, rendahnya permukaan air laut saat itu membuat jarak antara Kalimantan dan Sulawesi empat kali lebih dekat dibandingkan saat ini.

Rustan Lebe, arkeolog yang juga pamong budaya, meyakini migrasi manusia ke Sulawesi bukan sebuah ketidaksengajaan, melainkan sebuah misi.

Lukisan-lukisan di dinding Gua Metanduno yang menggambarkan bentuk perahu atau simbol maritim, memperkuat bukti sudah adanya teknologi pelayaran.

Menurut Shinatria Adhityatama, arkeolog maritim, temuan ini tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang cara hidup manusia awal di kepulauan Indonesia.

“Kehadiran manusia di Sulawesi pada masa ini hanya mungkin terjadi melalui penjelajahan laut. Ini bukan perjalanan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan, pengetahuan navigasi, dan kerja sama sosial,” jelasnya.

Wallacea tempat bermukim

Manusia yang meninggalkan lukisan di berbagai gua di Sulawesi juga diperkirakan telah membangun peradaban.

“Mereka bukan sekadar pelintas,” kata Shinatria Adhityatama.

“Mereka hidup dalam rutinitas harian yang kompleks, melibatkan pergerakan antar-pesisir, pulau-pulau kecil, dan kawasan karst,” jelasnya.

Arkeolog Basran Burhan menambahkan, manusia di Sulawesi sekitar 678 abad lampau membangun permukiman yang sangat luas.

Hasil ekskavasi di berbagai situs di Sulawesi, seperti di Leang Bulu Bettue di kawasan Maros-Pangkep, menunjukkan adanya aktivitas manusia yang kompleks dan menetap.

Baca Juga  Abdul Hakim Gencarkan Status Bandara Radin Inten II jadi Embarkasi Haji

Para arkeolong menemukan, antara lain, puluhan ribu artefak batu sebagai alat bantu kehidupan sehari-hari; bahan pembuatan karya seni cadas (rock art); hingga perhiasan purba yang menunjukkan adanya kesadaran akan estetika dan identitas.

“Mereka bukan sekadar pemburu-pengumpul yang berpindah-pindah tanpa tujuan, tapi pemukim yang terorganisir,” tegas Basran.

Menurut Shinatria Adhityatama, arkeolog maritim, temuan ini tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang cara hidup manusia awal di kepulauan Indonesia.© BRIN

Penemuan di Pulau Muna ini juga menjadi kepingan puzzle yang hilang dalam memetakan migrasi manusia modern (Homo sapiens) keluar dari Afrika.

Para ilmuwan kini menduga kuat adanya jalur utara migrasi: dari Kalimantan (Borneo) ke Sulawesi, lalu ke Maluku, sebelum akhirnya ke Papua Land dan Australia (Sahul).

Jalur utara menuju Sahul ini melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan dan Papua, sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.

“Ini mengonfirmasi umur yang ada di Sumatra [74.000 tahun] dan di Australia [60.000 tahun]. Jelas, Sulawesi adalah jembatan migrasi,” kata Budianto Hakim, yang juga terlibat dalam proyek penelitian ini.

Ancaman nyata konservasi

Meski memiliki nilai sejarah penting, banyak situs prasejarah di Indonesia menghadapi ancaman serius, mulai dari pelapukan alami, aktivitas pertambangan, hingga minimnya perlindungan dan pengelolaan jangka panjang.

“Untuk menghentikan [kerusakan] sama sekali itu tidak mungkin. Itu adalah hal yang alami. Tapi kita punya kesempatan untuk memperlambat laju itu,” ujar arkeolog dan pamong budaya Rustan Lebe.

Selama ini, tim arkeolog menggunakan metode konvensional untuk menjaga ratusan situs gua di kawasan Sulawesi, berupa pemeliharaan rutin.

Baca Juga  Wakil Ketua Komite III DPD RI, Abdul Hakim, Membahas Dukungan APBD untuk Pariwisata Lampung

Cara ini dianggap tidak lagi cukup menghadapi anomali cuaca yang kian ekstrem.

Laode Muhammad Aksa, di sisi lain, memperingatkan eksploitasi alam menjadi ancaman nyata bagi warisan budaya ini.

“Merusak hutan itu kejahatan besar, tapi merusak warisan budaya seharusnya juga dianggap sebagai kejahatan yang luar biasa,” tukas Laode.

Di beberapa tempat, gua-gua bergambar telah hilang akibat ledakan dinamit untuk membuka tambang, seperti semen atau marmer.

“Media lukisan itu sendiri karst [batu gamping atau kapur] adalah bahan untuk membuat semen,” Budianto Hakim memperingatkan.

“Kalau izin tambang tidak terkontrol, mungkin banyak lukisan yang belum ditemukan arkeolog namun terlebih dulu dirusak kegiatan industri.”

Bagi Budianto dan peneliti lain, temuan ini seharusnya tidak hanya menjadi data dalam publikasi jurnal ilmiah, tapi juga menjadi posisi tawar Indonesia di kancah internasional.

“Ini bisa menjadi soft power, alat untuk diplomasi budaya,” ujarnya.

Lokasi sekitar Gua Metanduno.© BRIN

Pemerintah Kabupaten Muna sendiri mengaku berkomitmen untuk melindungi dan memanfaatkan potensi wisata Gua Metanduno secara berkelanjutan.

Bupati Muna, H Bachrun, mengatakan ingin menjadikan situs ini “pusat ilmu pengetahuan dan penelitian” dan berharap kelak situs ini diusulkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.