Lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi: Cap tangan ‘serupa cakar’ berusia 67.800 tahun

0
10

Basran di dalam Gua Metanduno.© BRIN

“Jadi, di dalam gua itu ada lukisan dari dua periode berbeda. Gambar yang tertua itu, gambar cap tangan saja. Cuma beberapa jumlahnya, kurang dari sepuluh. Memang sudah agak kabur,” tukas Basran.

Analisis penanggalan memperlihatkan aktivitas seni di Gua Metanduno tidak bersifat sesaat. Lukisan-lukisan ini dibuat berulang kali selama sedikitnya 35.000 tahun, dan masih berlangsung hingga sekitar 20.000 tahun lalu—yang menunjukkan kawasan ini bukan sekadar persinggahan sementara.

Secara keseluruhan, menurut jurnal terbaru ini, kondisi lukisan cadas di Metanduno masih terjaga dengan baik, meski terdapat vandalisme di beberapa titik.

“Beberapa gambar tertutup lumut hijau dan sebagian lainnya mengalami pengelupasan,” tulis jurnal tersebut. Diperkirakan ada sekitar 316 gambar cadas di situs ini.

Ekspresi simbolik matang

Menurut jurnal terbaru ini, karya-karya seni tersebut dibuat dengan pigmen oker yang berasal dari tanah atau mineral yang kaya zat besi untuk menghasilkan warna merah, jingga, dan cokelat. Arang dipakai untuk warna hitam.

Teknik penggambaran umumnya menggunakan kuas, untuk membuat garis luar dan isian warnanya. Sementara, cap tangan dibuat dengan teknik semprot.

Para ilmuwan menentukan usia lukisan dengan metode penanggalan mutakhir laser-ablasi uranium-series (LA-U-series) terhadap lapisan kalsit yang ada di permukaan lukisan.

Baca Juga  Komang Teguh, Handball Lalu Jadi Pahlawan Indonesia Kalahkan Australia

Teknik ini disebut memiliki tingkat presisi sangat tinggi dibandingkan teknik sebelumnya, uranium series, yang metodenya melibatkan peluruhan radioaktif dari isotop uranium alami.

Dengan metode LA-U-series, peneliti mengambil sampel kalsit (lapisan mineral) yang tumbuh di atas dan bawah pigmen gambar.

Adhi Agus Oktaviana, peneliti gambar cadas BRIN yang juga arkeolog Griffith University, mengibaratkan kalsit yang diambil ini layaknya lapisan-lapisan tipis kulit bawang.

Dengan laser, mereka bisa memetakan gambar di bagian gua mana yang paling tua dengan akurat.

“Temuan di Muna membuktikan bahwa Homo sapiens tidak menunggu sampai mereka sampai di Eropa untuk menjadi seniman,” ujar Adhi.

“Kapasitas berpikir simbolis ini sudah matang di Sulawesi, di Nusantara.”

Para peneliti di dalam Gua Metanduno.© BRIN

Salah satu stensil tangan itu, lanjut Adhi, juga diduga merupakan tangan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa seni bukanlah aktivitas eksklusif kaum pria dewasa atau pemburu saja.

Sementara itu, cap tangan lain dengan bentuk jari menyerupai cakar (narrow finger) disebut mencerminkan ekspresi simbolik yang matang, meski masih belum jelas maksudnya apa.

“Seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang erat,” kata Adam Brumm.

Baca Juga  Audiensi KAMMI Lampung dengan KPU Provinsi Lampung, 60% peserta pemilu adalah pemuda.

Sebelumnya, di situs Leang Bulu’ Sipong 4, kawasan Maros-Pangkep, juga ditemukan lukisan lain yang ditafsirkan para ilmuwan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan.

Dalam adegan perburuan babi dan anoa yang kompleks, juga di situs Maros-Pangkep, Adhi menyimpulkan manusia prasejarah kala itu sudah tahu cara berburu berkelompok.

“Artinya, sudah ada komunikasi dan bahasa awal,” kata Adhi.

Adhi Agus Oktaviana (paling kanan) duduk di dalam Gua Metanduno.© BRIN

‘Ledakan’ kognitif

Laode Muhammad Aksa, arkeolog dan dosen Universitas Hasanuddin Makassar, tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

“Ini adalah ledakan dalam ilmu pengetahuan, spektakuler buat dunia arkeologi,” ujar Laode.

Selama hampir satu abad, buku-buku prasejarah menempatkan Gua Lascaux di Prancis atau Altamira di Spanyol sebagai ‘rahim’ seni manusia. Dengan temuan di Pulau Muna, Laode menyebut narasi ini resmi berubah.

“Di Eropa mereka menyebutnya cave art, di sini kita menyebutnya rock painting atau gambar cadas,” kata Laode.

Baca Juga  Eva Dwiana dan Putri Rumanti Mendaftar Penjaringan Calon Wali Kota PKS Bandar Lampung

Eropa mungkin memiliki gambar bison yang sangat artistik dengan detail bulu-bulu yang halus, sementara secara visual, gambar di Muna tampak jauh lebih sederhana.

Namun Laode berkukuh, nilai intelektualnya justru lebih tinggi karena usianya yang jauh lebih tua.

“Menggambar itu kemampuan kognitif, dari batin atau otak, ke tangan. Tidak semua manusia prasejarah bisa menggambar, dan ini membuktikan adanya ‘lonjakan pengetahuan’ pada manusia prasejarah kita,” katanya.

Sejumlah gambar cadas di Gua Metanduno.© BRIN

Manusia di Sulawesi itu disebut Budianto sebagai “masyarakat prasejarah yang unggul, yang mampu membuat cerita dan mampu membuat simbol”.

Sebelumnya, lukisan prasejarah di Sulawesi banyak ditemukan di Maros-Pangkep yang terletak di bagian barat daya pulau.

Fakta bahwa temuan terbaru ada di Pulau Muna, yang letaknya di sisi berlawanan dan di pulau kecil yang terpisah, menunjukkan bahwa aktivitas membuat gambar cadas bukanlah kegiatan lokal.

Ini sudah tertanam kuat dalam budaya masyarakat prasejarah yang menyebar di kawasan tersebut.

“Di sini ada lukisan figuratif tertua, ada lukisan cap tangan tertua,” kata Budianto.