Site icon Informasi Berita Rujukan Masyarakat Lampung

Refleksi 96 Tahun Sumpah Pemuda, Amiza : “Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton! Jadilah Pelaku Sejarah!”

Disusun oleh : Amiza Rezika, S.Pd. – Mahasiswa Magister PKN UPI 2024

“Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah keadaan pemudanya hari ini”.
Sebuah kutipan yang rasa-rasanya tidak asing didengar. Benar saja, jika kita tilik dalam peristiwa-peristiwa besar yang tertuang dalam catatan sejarah, hampir dapat dipastikan selalu ada sumbangsih dan andil besar pemuda didalamnya.

Kita sering dibawa hanyut dalam glorifikasi peran heroisme pemuda pada masa lalu, yang menghantarkan kita pada kondisi peradaban hari ini. Tantangan, pengorbanan, kemenangan hingga cerita kejayaan rasanya erat dengan seorang yang melekat status pemuda pada dirinya.

Pemuda adalah ia yang berani mengatakan bagaimana seharusnya, bukan hanya menerima apa adanya. Dengan idealisme yang melekat, pemuda merupakan infiltrasi terbaik untuk memastikan kondisi sekelilingnya tetap jernih, mencari formulasi, dan gerakan-gerakan solutif konkret atas problematika yang dihadapi.

Pemuda adalah investasi terbaik bangsa. Indonesia tidak akan mungkin sampai pada pemutakhiran hari ini jika pemuda-pemuda dimasa lalu memilih berpangku tangan, tidak berani mengambil resiko dan menyerah dengan keadaan. Namun mereka memilih berjuang, berhimpun dengan berbagai latar belakang perbedaan, bersimpuh dalam tujuan; untuk Indonesia.

Hari ini 96 tahun yang lalu, saat para pemuda mencatatkan sejarah menciptakan sebuah gerakan besar yang kemudian kita kenal dengan istilah Sumpah Pemuda. Sebuah gerakan yang menjadi tonggak besar dalam sejarah perjuangan. Para pemuda pada masa itu, sudah memberikan kontribusi terbaik pada zamannya.

Tibalah kesempatan bagi kita, para manusia yang digariskan takdir untuk menyandang status pemuda pada zaman ini, dengan tantangannya tersendiri. Meskipun zamannya berbeda, namun spirit pemuda sejatinya tidaklah pernah berubah. Naluri yang identik dengan idealitas dan tidak nyaman dengan ketimpangan. Dengan segala problematika dan kesadaran itulah sudah seharusnya pemuda mengambil peran untuk menjadi problem solver di sekelilingnya. Tidak perlu terbebani dengan glorifikasi para pendahulu, tidak pula harus dengan gerakan-gerakan besar, populis, dan prestisius. Melalui gerakan-gerakan sederhana dan realistis saja, asal dilakukan dengan terencana, terukur dan konsisten,  sejatinya tidak pernah ada kontribusi yang sia sia.

Berbagai persoalan yang dihadapi Bangsa Indonesia tentu akan semakin kompleks, isu-isu mutakhir tidak lagi efektif diatasi dengan cara-cara konvensional. Diperlukan terobosan dan keberanian dalam berinovasi dan para pemudalah yang niscaya mampu melakukannya. Kita menyadari bahwa kebutuhan seperti pendidikan dan kesehatan merupakan hak dasar warga negara. Disisi lain kita juga menyadari bahwa masih banyak ketimpangan dalam akses dan praktiknya, sehingga menimbulkan praktik-praktik diskriminatif antara yang mampu dan yang tidak mampu. Sebagai pemuda yang sadar akan perannya, tentu kita tidak bisa berdiam diri dan berpangku tangan dengan keadaan, aksi-aksi sederhana yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki keadaan jauh lebih bermanfaat ketimbang mencaci maki dan mengutuk keadaan.

Sebagai contoh, atas kesadaran melihat ketimpangan pendidikan, akses diskriminatif dan tidak merata tersebut, muncul sebuah inovasi gerakan bernama Gerakan Ayo Kuliah (GAK) yang bertujuan untuk memangkas ketimpangan dalam akses pendidikan. Dengan keyakinan secara rasional hanya dengan pendidikanlah lingkaran setan jebakan kemiskinan dapat diurai. Kemudian, melalui gerakan-gerakan kolektif, advokasi-advokasi terus diupayakan oleh GAK. Sampai pada hari ini, upaya-upaya itu mulai menampakkan hasilnya, yang seolah menjadi pelecut semangat untuk GAK terus bergerak. Tentu masih jauh dari tataran ideal yang GAK akan tuju, namun dengan keyakinan bahwa gerakan human investment bukanlah gerakan instan yang dimulai hari ini langsung akan terlihat hasilnya esok hari. Perlu adanya kesabaran, kontinuitas, dan konsistensi dalam merawat gerakan kebaikan tersebut. Setidaknya melalui gerakan ini ada kesadaran sekelompok pemuda untuk menjawab tantangan bangsa ke depan yang akan semakin kompleks, diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dalam menjawab tantangan tersebut dan hanya melalui pendidikanlah kompetensi tersebut dapat dibangun dengan baik.

Kesadaran mengambil peran dan kontribusi, begitulah cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati perjuangan para pemuda pada masa terdahulu. Semoga kita tidak terjebak dengan glorifikasi cerita-cerita manis pada masa lalu, yang sibuk membanggakan pencapaian pendahulu, namun gagap dalam merumuskan kontribusi-kontribusi nyata hari ini untuk masa depan.

Exit mobile version