Indonesia gabung ‘Dewan Perdamaian’ bentukan Trump – ‘Kita berisiko jadi antek asing, kalau tak punya agenda jelas’

0
6
Presiden AS Donald Trump, mengenakan setelan biru gelap, kemeja putih, dan dasi merah, berpidato di Sidang Umum PBB, dengan anggota duduk di meja, dari podium berlogo PBB, di panggung hijau, di New York.

Sumber gambar,Getty Images

Keterangan gambar,Pada 7 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump menandatangani memo untuk menarik AS dari 31 entitas PBB

Namun, sumber yang dekat dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron berkata kepada kantor berita AFP, piagam tersebut “melampaui kerangka kerja Gaza”.

Sumber itu pun menambahkan: “Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait penghormatan terhadap prinsip dan struktur PBB, yang dalam keadaan apa pun tidak boleh dipertanyakan.”

Sementara itu, Khaled Elgindy dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menyampaikan kepada Reuters:

“Rasanya pemerintahan mereka (pemerintahan Trump) ingin memperluas jangkauan Dewan Perdamaian dan bahkan berencana mengganti sistem PBB saat ini,” kata Elgindy.

“Jadi, jelas bahwa Gaza mungkin menjadi awal, bukan akhir dari Dewan tersebut menurut pemerintahan Trump,” ujarnya.

Gambar komposit menunjukkan Presiden AS Donald Trump (tengah), mengenakan jaket gelap, kemeja putih, dan dasi biru, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (kiri), mengenakan jaket gelap dan kemeja putih berkerah terbuka, serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kanan), juga mengenakan jaket gelap, kemeja putih, dan dasi biru.
Keterangan gambar,Presiden AS Donald Trump (tengah) telah menunjuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kanan) ke dalam “Dewan Eksekutif Pendiri” Dewan Perdamaian.

Sejauh ini, tindakan pemerintahan Trump terkait PBB adalah telah memotong dana AS untuk PBB.

AS juga berulang kali mengeluarkan veto yang menghalangi Dewan Keamanan untuk mengambil tindakan agar mengakhiri genosida di Gaza.

Ini termasuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Dana Demokrasi PBB.

Mantan Perdana Menteri Inggris Sir Tony Blair (kiri) berjabat tangan dengan Donald Trump, keduanya mengenakan setelan biru gelap, kemeja putih, dan dasi bermotif merah. Presiden juga mengenakan pin bendera AS di kerah jasnya.

Sumber gambar,AFP via Getty Images

Keterangan gambar,Penunjukan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair oleh Presiden AS Donald Trump ke dalam “Dewan Eksekutif Pendiri” Dewan Perdamaian-nya menimbulkan kontroversi.

Bagaimana Dewan Perdamaian Trump akan bekerja?

Di dalam susunan Dewan Perdamaian, terdapat dua dewan eksekutif, yakni:

  • “Dewan Eksekutif Pendiri”, dengan fokus pada investasi dan diplomasi
  • “Dewan Eksekutif Gaza”, yang bertanggung jawab mengawasi semua kegiatan di lapangan dari Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, sebuah komite teknokrat yang bertugas mengelola pemerintahan sementara dan rekonstruksi Gaza
Keanggotaan Dewan Eksekutif Pendiri dari Dewan Perdamaian Trump.
Keterangan gambar,Keanggotaan Dewan Eksekutif Pendiri dari Dewan Perdamaian Trump.

Gedung Putih menyatakan mereka yang terpilih untuk duduk di dewan-dewan ini akan bekerja memastikan “pemerintahan yang efektif dan penyediaan layanan terbaik yang mendukung perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bagi rakyat Gaza”.

Trump akan memimpin Dewan Eksekutif Pendiri yang beranggotakan tujuh orang, yang akan mengarahkan Gaza melalui fase rekonstruksi berikutnya, menurut Gedung Putih. Anggota lainnya termasuk:

Keanggotan Dewan Eksekutif Gaza dari Dewan Perdamaian Trump
Keterangan gambar,Keanggotan Dewan Eksekutif Gaza dari Dewan Perdamaian Trump

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, juga menjadi anggota dewan ini. Masuknya Blair cukup kontroversial karena pada 2003 ia membawa Inggris terlibat dalam Perang Irak berdasarkan klaim Irak memiliki senjata pemusnah massal, yang kemudian terbukti palsu.

Setiap anggota akan memiliki portofolio masing-masing yang “penting bagi stabilisasi Gaza”, kata Gedung Putih.

Apakah Palestina dan Israel masuk di Dewan Perdamaian Trump?

Hingga kini, tidak terpantau ada warga Palestina berada di kedua dewan eksekutif tersebut.

Sementara itu, ada satu warga Israel dilibatkan di Dewan Eksekutif Gaza, yaitu miliarder properti Yakir Gabay, yang lahir di Israel tetapi kini berdomisili di Siprus.

Anggota lain dalam dewan ini dikabarkan juga mencakup politisi senior dari negara-negara seperti Qatar dan Turki yang telah mengkritik cara Israel menjalankan genosida di Jalur Gaza.

Palestina mengharapkan “perwakilan yang jauh lebih luas,” kata politisi Mustafa Barghouti kepada program Weekend BBC News World Service.

“Sepertinya ini hanya dewan Amerika, dengan beberapa unsur internasional,” katanya.

Seorang gadis muda mengenakan kaus abu-abu dan celana hitam minum dari selang hijau di tengah puing-puing dan reruntuhan rumah dan bisnis di Gaza, dengan truk dan pejalan kaki di latar belakang.

Sumber gambar,AFP via Getty Images

Keterangan gambar,Sekitar 80% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak, menghasilkan 60 juta ton puing-puing, menurut perkiraan PBB.

Dia juga meragukan kesediaan Israel membuka perbatasan Rafah untuk memfasilitasi rekonstruksi Gaza.

Sementara itu, Israel menyebut mereka tidak dilibatkan dalam pembicaraan tentang komposisi dewan eksekutif.

Hal ini “tidak dikoordinasikan dengan Israel dan bertentangan dengan kebijakannya,” begitu keterangan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyebut pengumuman tersebut sebagai “kegagalan diplomatik bagi Israel”.

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, menulis di X: “Sektor Gaza tidak membutuhkan ‘komite administratif’ untuk mengawasi ‘rekonstruksinya’ karena yang dibutuhkan adalah membersihkannya dari teroris Hamas.”

Apa saja langkah “Dewan Perdamaian” Trump?

Fase pertama rencana perdamaian: Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata, pertukaran sandera Israel yang masih hidup dan yang telah meninggal di Gaza dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, dan peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah Israel bersikeras, mereka hanya dapat melanjutkan ke fase kedua setelah Hamas menyerahkan jenazah sandera terakhir yang tewas.

Lainnya, Hamas menolak menyerahkan senjatanya tanpa pembentukan negara Palestina merdeka, dan Israel belum berkomitmen untuk sepenuhnya menarik diri dari Gaza.

Gencatan senjata yang saat ini berlangsung juga rapuh. Lebih dari 460 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut kementerian kesehatan di Gaza, sementara militer Israel mengatakan tiga tentaranya tewas dalam serangan Palestina selama periode yang sama.

Saat ini sekitar 80% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak dan menghasilkan 60 juta ton puing-puing, menurut perkiraan PBB. Keluarga yang terpaksa mengungsi juga menghadapi cuaca dingin, tempat tinggal yang terbatas, dan kekurangan makanan.

Kelompok bantuan mengatakan ada perbaikan, tapi Israel terus memberlakukan pembatasan terhadap pekerjaan mereka.

Karena itu, pertanyaannya apakah Dewan Perdamaian Trump sungguh berniat mendorong perubahan dan mengambil langkah-langkah konkret menuju perdamaian yang berkelanjutan secara cepat? Hal ini masih harus dilihat ke depannya.