Kompas.com, 10 September 2026, 09:20 WIB
Oleh : Heryadi Silvianto
Dosen di FIKOM Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan praktisi kehumasan.
PIDATO Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada HUT ke-25 Demokrat menunjukkan bagaimana pesan politik dirancang, dibingkai, dipersepsikan, lalu dinegosiasikan kembali melalui respons Prabowo.
Pidato politik tidak berhenti ketika seorang politisi meninggalkan podium. Dalam era media yang bergerak cepat, sebuah pidato segera menjadi bahan tafsir: dipotong menjadi kutipan, diberi judul, dikomentari politisi lain, lalu dibaca publik dalam konteks politik yang lebih luas.
Karena itu, dalam perspektif political public relations, keberhasilan sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikatakan, tetapi juga oleh bagaimana pesan itu dibingkai, dipersepsikan, dan direspons oleh pihak lain.
Pidato Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam rangkaian HUT ke-25 Partai Demokrat pada 5 September 2026 menjadi contoh menarik. Di satu sisi, pidato tersebut merupakan konsolidasi internal partai dan penegasan kembali nilai-nilai Demokrat.
Di sisi lain, sejumlah bagian pidato segera dibaca sebagai pesan politik kepada kekuasaan, terutama ketika AHY berbicara tentang batas kekuasaan, demokrasi, hukum, dan tanggung jawab kepada rakyat.
AHY sendiri mengatakan bahwa kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu.
Baca lebih lengkap di sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/09/10/09200041/membaca-pidato-ahy-sebagai-strategi-pr-politik.
