Bandarlampung, Wawaimedia_ Dalam konteks kebhinekaan, moderasi beragama dapat dijadikan sebagai strategi kebudayaan untuk merawat Indonesia yang damai, toleran, dan menghargai keragaman. Oleh karena itu, Yayasan Daarul Hikmah Rajabasa Lampung (YDHRL) mengadakan Seminar Pendidikan pada Sabtu, (4/2) bertempat di Balai Keratun Pemerintah Provinsi Lampung.
Kegiatan digelar dengan mengusung tema “Moderasi Beragama untuk Menguatkan Karakter Generasi Emas Indonesia” yang dipaparkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung Kiyai Mukri.
Kegiatan berlangsung begitu hikmat, dihadiri tidak kurang dari 350 pegawai di bawah naungan Yayasan Daarul Hikmah Rajabasa Lampung. Turut hadir para pembina dan pengurus Yayasan serta tamu undangan di antaranya Ketua PGRI Lampung, Ketua JSIT Indonesia Wilayah Lampung, Ketua dan/atau yang mewakili JSIT Indonesia Daerah Bandarlampung, dan Ketua MGMP PAI Provinsi Lampung.
Salah satu pembina Yayasan, Abdul Hakim memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan tersebut. “Sikap moderat atau wasathiyah melekat dalam diri kita, sebagaimana tertuang di dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dalam keseimbangan. Maka, sebagai seorang mukmin kita harus mengamalkan kandungan Al-Qur’an, hadirnya kita di tengah masyarakat dalam rangka mengejawantahkan Islam Rahmatan Lil ‘alaamiin.”
“Hari ini bentuk kesungguhan kita dalam melahirkan Generasi Moderat, fasilitasi Yayasan kepada seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan untuk pencerdasan sekaligus pengayaan menuju terwujudnya Generasi Qur’ani, berkarakter, dan berprestasi. Dari sini, artinya kita tidak boleh berhenti menjadi pembelajar. Sebab berhenti belajar sama halnya kita tidak siap menjadi pengajar untuk anak didik kita”, tegas Abdul Hakim dalam sambutannya.
Kiyai Mukri mengapresiasi kegiatan hari ini, beliau menuturkan bahwa perasaannya sangat bahagia dan merasa gelombangnya tersambung dengan seluruh peserta. “Saya sangat bahagia dan merasa nyambung gelombangnya ketika berada di sini.”
“Dalam kesempatan ini, kita akan sama-sama belajar bersikap washatan atau seperti wasit yang berada di tengah dalam pertandingan. Beragama tidak boleh terlalu ekstrem, kita harus bisa menyikapi perbedaan. Kita harus meneladani Nabi yang begitu santun dan lemah lembut dalam berdakwah. Tidak mudah menyalahkan, justru semakin sholih seseorang akan semakin bijak dan tidak mudah mengkafirkan orang lain,” pesan yang begitu meneduhkan dari Sang Kiyai.
Peserta kegiatan begitu antusias, kegiatan yang dihadiri ratusan orang namun suasana di dalam ruangan begitu teduh sebab terbawa aura positif Kiyai. Setelah selesai pemaparan oleh Kiyai Mukri, dilanjutkan sesi tanya jawab. Kegiatan ditutup dengan pemberian cinderamata dan foto bersama.