Site icon Informasi Berita Rujukan Masyarakat Lampung

Indonesia gabung ‘Dewan Perdamaian’ bentukan Trump – ‘Kita berisiko jadi antek asing, kalau tak punya agenda jelas’

Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani piagam Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Davos, Swiss, Kamis (22/01).

Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam badan ini “benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza”.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional, menilai Indonesia akan lebih punya peran lebih kuat dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina. Asalkan punya agenda yang jelas. Tanpa itu, hanya akan jadi “antek asing”.

Dalam pernyataan bersama sebelumnya, setidaknya delapan pemimpin negara, termasuk Indonesia menyatakan keikutsertaan dalam Dewan Perdamaian ini.

Lembaga yang diklaim akan mengurus Gaza ini memicu kekhawatiran sekaligus beragam pertanyaan tentang peta politik internasional.

Salah satu informasi terkait “Dewan Perdamaian” yang memicu kritik adalah susunan anggota dewan eksekutifnya yang tidak memasukkan warga Palestina, tapi justru melibatkan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris yang mendukung invasi Irak pada 2003.

Informasi lain yang melahirkan pertanyaan adalah terkait biaya yang harus dibayar anggota permanennya, sebesar US$1 miliar (Rp16,9 triliun).

Selain itu, bagaimana lembaga ini akan mengambil alih peran PBB juga urung terjawab.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan utama tentang Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump.

Apa alasan Indonesia bergabung “Dewan Perdamaian” yang digagas Trump?

Presiden Prabowo duduk didampingi Presiden Trump saat menandatangani piagam Dewan Perdamaian di Davos, Swiss, Kamis (22/01).

Keterlibatan Indonesia, menurut Presiden Prabowo merupakan momentum bersejarah sekaligus peluang nyata untuk mendorong upaya perdamaian, khususnya bagi rakyat Palestina.

“Saya kira ini kesempatan bersejarah, ini kesempatan bersejarah. Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza,” katanya usai penandatanganan.

Dalam laman kantor presiden, disebutkan, bagi Indonesia, partisipasi dalam badan ini memiliki makna strategis. Keikutsertaan ini dimaksudkan untuk menjaga agar proses transisi Gaza tetap mengarah pada solusi dua negara (two-State solution), dan tidak berkembang menjadi pengaturan permanen yang mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.

Sumber gambar,Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar,Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban (kiri), Presiden AS Donald Trump (tengah), dan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto saat seremoni upacara penandatanganan Dewan Perdamaian di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026.

Melalui forum ini, Indonesia akan secara aktif menyuarakan posisi prinsipil terkait penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, pembukaan akses kemanusiaan, serta pemulihan tata kelola sipil Palestina.

Kehadiran Indonesia juga diharapkan dapat menjadi penyeimbang moral dan politik agar proses rekonstruksi berjalan sesuai hukum internasional dan resolusi-resolusi PBB.

Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra aktif dalam diplomasi internasional serta sebagai salah satu suara penting dalam upaya menjaga stabilitas dan ketertiban dunia, tulis laman kantor presiden.

Terkait dengan tarif keanggotaan sekitar Rp16,9 triliun yang banyak ditanyakan, Juru Bicara (Jubir) II Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan, “Sejauh ini memang belum ada pembahasan mengenai pembayaran tersebut.”

Dikutip dari Kompas.com, Nabyl menekankan keanggotaan Dewan Perdamaian ini tidak mengharuskan membayar demi mendapatkan kursi.

“Namun, keanggotaan itu tidak mengharuskan pembayaran, terutama apabila tidak untuk yang permanen,” katanya.

Sumber gambar,AFP via Getty Images

Keterangan gambar,Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden Indonesia Prabowo Subianto selama KTT tentang Gaza di Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengunggah pernyataan bersama yang menyebutkan menteri luar negeri Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan ikut dalam Dewan Perdamaian Trump.

“Setiap negara akan menandatangani dokumen keanggotaan sesuai dengan prosedur hukum dan prosedur lain yang diperlukan masing-masing,” tulis pernyataan bersama yang diunggah akun Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kamis (22/01).

Negara-negara ini mendukung “upaya perdamaian” yang dipimpin Trump, terkait gencatan senjata permanen dan rekonstruksi Gaza, serta mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan kedaulatan negara sesuai dengan hukum internasional.

“Sehingga ini membuka jalan bagi keamanan dan stabilitas bagi semua negara dan rakyat di kawasan tersebut,” begitu pernyataan mereka.

Apakah Indonesia akan jadi ‘antek asing’?

Beberapa warganet yang mengomentari keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian sebagai ‘antek asing’.

Padahal tidak demikian. Peran Indonesia dalam upaya penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza justru akan semakin kuat dengan terlibat di Dewan Perdamaian, kata pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo.

Selama ini, Indonesia lebih banyak melakukan pendekatan melalui jalur kemanusiaan dan multilateral tidak langsung, seperti lewat PBB.

Tapi ada syaratnya, lanjut Agung. Langkah tersebut harus disertai dengan agenda yang jelas dan terukur, terutama memperjuangkan keadilan bagi Palestina.

“Karena kita memahami Ketika bicara masalah Board of Peace (Dewan Perdamaian), ini punya mekanisme yang berbeda seperti hal mekanisme yang lumrah dilakukan oleh PBB,” katanya.

Seperti diketahui, Dewan Perdamaian ini dibentuk oleh Trump. Pengurus intinya ditunjuk Gedung Putih. Tidak ada keterlibatan pihak Palestina di dalamnya, sehingga langkah yang dijalankan sangat mungkin “bias” terhadap Israel, kata Agung.

“Makanya kemudian Indonesia sebenarnya punya peran besar ketika memang bergabung dalam Board of Peace ini adalah dorong kesertaan Palestina di dalamnya,” katanya.

Agung menilai ini memungkinkan, karena negara anggota lain seperti Turki, Mesir, Yordania dan Qatar dapat menjadi “teman bermain yang mesra buat Indonesia”. Mereka dapat diajak bekerja sama karena memiliki kepentingan penyelesaian konflik di Gaza serta memperkuat posisi tawar.

Sumber gambar,Getty Images

Keterangan gambar,Presiden AS Donald Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto berjabat tangan saat berpose dalam pertemuan puncak para pemimpin dunia tentang mengakhiri perang Gaza pada 13 Oktober 2025 di Sharm El-Sheikh, Mesir.

“Ini aktor-aktor yang kemudian harus menjadi suara bagi Palestina. Mendorong dan memberikan ruang buat berkomunikasi dengan aktor di lapangan, baik Hamas maupun Fatah, maupun Otoritas Palestina,” kata Agung.

Selain itu, menurutnya, Trump bukan sosok yang terlalu kaku, tapi bisa sangat membuka ruang untuk proses negosisasi.

Agung bilang, tanpa adanya agenda yang jelas, hanya akan membuat Indonesia berisiko terseret agenda Trump, kehilangan legitimasi domestik, serta mereduksi posisi moral pro-Palestina.

“Jadi antek-antek asing kalau ini enggak terlihat punya agenda setting kan,” katanya.

Apakah melanggar prinsip bebas aktif?

Keterlibatan Indonesia di Dewan Perdamaian tak melanggar prinsip bebas aktif, menurut Agung. Sebab, ini bukan blok aliansi militer, keanggotannya belum tentu permanen, dan masih bersifat eksperimental dalam penyelesaian konflik antarnegara.

“Walaupun laboratoriumnya… Sayangnya, adalah Palestina,” kata Agung.

Juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang juga mengatakan keikutsertaan Indonesia “sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif”.

Keterlibatan Indonesia, kata dia, merupakan “langkah strategis dan konstruktif untuk memperkuat upaya internasional mendorong penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, serta perluasan akses bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Gaza”.

Sumber gambar,ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Keterangan gambar,Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang mengatakan keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian sejalan dengan prinsip kebijakan luar negeri bebas dan aktif.

Yvonne menambahkan, Dewan Perdamaian akan dilaksanakan sebagai bagian dari kerja sama multilateral untuk mendukung perdamaian, dan keamanan di Gaza.

“Melalui BoP [Board of Peace], Indonesia juga memiliki ruang untuk memastikan agar setiap langkah yang ditempuh tetap berada dalam koridor mandat yang jelas, mengutamakan tujuan kemanusiaan, serta memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan seluruh personel Indonesia yang terlibat,” kata Yvonne seperti dikutip Kumparan, Rabu (21/01).

Dengan Dewan Perdamaian, dia bilang, Indonesia akan punya ruang memastikan setiap langkah yang akan dijalankan.

“Mengutamakan tujuan kemanusiaan, serta memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan seluruh personel Indonesia yang terlibat,” jelasnya.

Mengapa Indonesia harus berhati-hati?

Keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian juga mendapat respons dari Anggota DPR Komisi bidang Luar Negeri, TB Hasanuddin.

Menurutnya, keanggotaan Indonesia dalam forum tersebut memiliki sisi positif, namun juga menyimpan sejumlah risiko strategis.

Hal positif itu adalah terbuka peluang memengaruhi arah kebijakan perdamaian Gaza “dari dalam”.

“Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus suara moral dunia Islam, Indonesia dapat menghadirkan dimensi kemanusiaan yang kuat serta menjadi jembatan antara kepentingan Barat dan aspirasi negara-negara Muslim,” katanya dalam keterangan tertulis.

Keanggotaan Indonesia memberikan ruang partisipasi langsung dalam menentukan arah rekonstruksi Gaza agar bantuan internasional dapat disalurkan secara adil, transparan, dan tepat sasaran, katanya.

Posisi ini menurutnya akan menjadi posisi tawar Indonesia agar bisa mendorong AS lebih konsisten memperjuangkan solusi dua negara (two-state solution), yang selama ini menjadi sikap resmi diplomasi Indonesia.

Ia melanjutkan, empat hal krusial lainnya yang perlu diantisipasi pemerintah di antaranya:

  • Risiko geopolitik. Indonesia akan dipersepsikan mendukung politik AS. Persepsi ini dapat memengaruhi hubungan Indonesia dengan negara-negara lain yang punya pandangan berbeda terhadap konflik Gaza.
  • Risiko keamanan personel. Penempatan personel TNI dalam misi yang berpotensi tidak inklusif terhadap seluruh faksi di Gaza, termasuk Hamas, dapat menempatkan pasukan Indonesia pada posisi rawan dan berisiko tinggi.
  • Dukungan finansial untuk membayar kanggotaan Rp16,9 triliun perlu dijelaskan pemerintah secara transparan mengenai sumbernya. “Agar tidak membebani keuangan negara dan kesejahteraan rakyat,” ucapnya.
  • Keselarasan dengan kebijakan PBB.

“Indonesia tidak boleh terjebak dalam skema yang justru bertentangan dengan prinsip, mandat, dan resolusi PBB terkait penyelesaian konflik Palestina–Israel,” kata TB Hasanuddin.

Siapa saja yang diundang bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump?

Puluhan pemimpin dunia telah menerima surat undangan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump, menurut sejumlah laporan. Selain Indonesia, undangan itu diterima oleh:

  • Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese
  • Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva
  • Presiden Siprus, Nikos Christodoulides
  • Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi
  • Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen
  • Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis
  • Perdana Menteri India, Narendra Modi
  • Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan
  • Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari
  • Presiden Polandia, Karol Nawrocki
  • Presiden Rusia, Vladimir Putin
  • Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan
  • Perdana Menteri Kerajaan Bersatu (UK), Sir Keir Starmer

Beberapa negara yang masih mempertimbangkan adalah Rusia, Selandia Baru, Thailand, Inggris, dan Vatikan.

Sumber gambar,Getty Images

Keterangan gambar,Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merupakan salah satu dari tujuh anggota “dewan eksekutif pendiri” yang akan memimpin Gaza melalui fase rekonstruksi berikutnya, menurut Gedung Putih.

Siapa yang setuju bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump?

Mereka yang secara terbuka telah setuju bergabung, termasuk:

  • Perdana Menteri Albania, Edi Rama
  • Presiden Argentina, Javier Milei
  • Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán
  • Presiden Kazakhstan,Kassym-Jomart Tokayev
  • Presiden Paraguay, Santiago Peña
  • Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev

Dan, seperti dikutip dari pernyataan bersama di akun X Kemenlu Indonesia, Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan bergabung.

Bahrain, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Hungaria, Maroko, dan Vietnam telah mendaftar.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney ikut serta, tetapi tidak akan membayar untuk menjadi anggota.

Namun, Perdana Menteri Slovenia, Robert Golob, menolak undangan tersebut karena badan itu “secara berbahaya mengganggu tatanan internasional yang lebih luas”.

Apa syarat bergabung dengan “Dewan Perdamaian”?

Piagam Dewan Perdamaian akan mulai berlaku setelah tiga negara secara resmi setuju terikat di dalamnya.

Seorang pejabat AS berkata pada CBS News, tak ada persyaratan bergabung. Akan tetapi, bagi mereka yang ingin menjadi anggota permanen wajib membayar biaya US$1 miliar (sekitar Rp16,9 triliun) atau hanya berhak memperoleh keanggotaan selama tiga tahun.

Iuran anggota itu disebut akan digunakan mendanai rekonstruksi Gaza, menurut para pejabat.

Namun, dewan ini rupanya akan diperluas untuk menangani konflik lain, menurut salinan surat dan draf piagam yang dilihat kantor berita Reuters. Bahkan, dewan ini akan dipimpin Trump seumur hidup, meski ia tidak lagi menjadi Presiden AS.

Apakah Dewan Perdamaian Trump berpotensi melemahkan PBB?

Dalam suratnya, Trump mengungkapkan dewan tersebut akan “mengambil pendekatan baru yang berani dalam menyelesaikan konflik global”.

Hal ini kemudian dinilai berpotensi mengancam posisi dan fungsi Dewan Keamanan PBB, yang saat ini bertanggung jawab atas perdamaian, pemeliharaan perdamaian, dan sanksi internasional.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, piagam tersebut dibuka dengan menekankan kebutuhan adanya “badan perdamaian internasional yang lebih lincah dan efektif”.

Lanjutannya, tertulis perdamaian yang berkelanjutan memerlukan “keberanian untuk meninggalkan… lembaga-lembaga yang terlalu sering gagal”.

Dalam pernyataannya tentang Dewan Perdamaian, Gedung Putih mengatakan: “Tonggak sejarah ini sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.”

Sumber gambar,Getty Images

Keterangan gambar,Pada 7 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump menandatangani memo untuk menarik AS dari 31 entitas PBB

Namun, sumber yang dekat dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron berkata kepada kantor berita AFP, piagam tersebut “melampaui kerangka kerja Gaza”.

Sumber itu pun menambahkan: “Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait penghormatan terhadap prinsip dan struktur PBB, yang dalam keadaan apa pun tidak boleh dipertanyakan.”

Sementara itu, Khaled Elgindy dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menyampaikan kepada Reuters:

“Rasanya pemerintahan mereka (pemerintahan Trump) ingin memperluas jangkauan Dewan Perdamaian dan bahkan berencana mengganti sistem PBB saat ini,” kata Elgindy.

“Jadi, jelas bahwa Gaza mungkin menjadi awal, bukan akhir dari Dewan tersebut menurut pemerintahan Trump,” ujarnya.

Keterangan gambar,Presiden AS Donald Trump (tengah) telah menunjuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kanan) ke dalam “Dewan Eksekutif Pendiri” Dewan Perdamaian.

Sejauh ini, tindakan pemerintahan Trump terkait PBB adalah telah memotong dana AS untuk PBB.

AS juga berulang kali mengeluarkan veto yang menghalangi Dewan Keamanan untuk mengambil tindakan agar mengakhiri genosida di Gaza.

Teranyar, pada 7 Januari 2026, Trump menandatangani memo, menarik AS dari 31 entitas PBB yang “beroperasi bertentangan dengan kepentingan nasional AS”.

Ini termasuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Dana Demokrasi PBB.

Sumber gambar,AFP via Getty Images

Keterangan gambar,Penunjukan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair oleh Presiden AS Donald Trump ke dalam “Dewan Eksekutif Pendiri” Dewan Perdamaian-nya menimbulkan kontroversi.

Bagaimana Dewan Perdamaian Trump akan bekerja?

Di dalam susunan Dewan Perdamaian, terdapat dua dewan eksekutif, yakni:

  • “Dewan Eksekutif Pendiri”, dengan fokus pada investasi dan diplomasi
  • “Dewan Eksekutif Gaza”, yang bertanggung jawab mengawasi semua kegiatan di lapangan dari Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, sebuah komite teknokrat yang bertugas mengelola pemerintahan sementara dan rekonstruksi Gaza
Keterangan gambar,Keanggotaan Dewan Eksekutif Pendiri dari Dewan Perdamaian Trump.

Gedung Putih menyatakan mereka yang terpilih untuk duduk di dewan-dewan ini akan bekerja memastikan “pemerintahan yang efektif dan penyediaan layanan terbaik yang mendukung perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bagi rakyat Gaza”.

Trump akan memimpin Dewan Eksekutif Pendiri yang beranggotakan tujuh orang, yang akan mengarahkan Gaza melalui fase rekonstruksi berikutnya, menurut Gedung Putih. Anggota lainnya termasuk:

  • Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio
  • Utusan Khusus untuk Timur Tengah dari AS, Steve Witkoff,
  • Menantu Trump, Jared Kushner
Keterangan gambar,Keanggotan Dewan Eksekutif Gaza dari Dewan Perdamaian Trump

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, juga menjadi anggota dewan ini. Masuknya Blair cukup kontroversial karena pada 2003 ia membawa Inggris terlibat dalam Perang Irak berdasarkan klaim Irak memiliki senjata pemusnah massal, yang kemudian terbukti palsu.

Setiap anggota akan memiliki portofolio masing-masing yang “penting bagi stabilisasi Gaza”, kata Gedung Putih.

Apakah Palestina dan Israel masuk di Dewan Perdamaian Trump?

Hingga kini, tidak terpantau ada warga Palestina berada di kedua dewan eksekutif tersebut.

Sementara itu, ada satu warga Israel dilibatkan di Dewan Eksekutif Gaza, yaitu miliarder properti Yakir Gabay, yang lahir di Israel tetapi kini berdomisili di Siprus.

Anggota lain dalam dewan ini dikabarkan juga mencakup politisi senior dari negara-negara seperti Qatar dan Turki yang telah mengkritik cara Israel menjalankan genosida di Jalur Gaza.

Palestina mengharapkan “perwakilan yang jauh lebih luas,” kata politisi Mustafa Barghouti kepada program Weekend BBC News World Service.

“Sepertinya ini hanya dewan Amerika, dengan beberapa unsur internasional,” katanya.

Sumber gambar,AFP via Getty Images

Keterangan gambar,Sekitar 80% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak, menghasilkan 60 juta ton puing-puing, menurut perkiraan PBB.

Fakta bahwa peran kelompok administratif Palestina yang disetujui selama perundingan damai di Kairo dinilai “tidak jelas” dan ini berpotensi akan “menyulitkan,” kata Barghouti.

Dia juga meragukan kesediaan Israel membuka perbatasan Rafah untuk memfasilitasi rekonstruksi Gaza.

Sementara itu, Israel menyebut mereka tidak dilibatkan dalam pembicaraan tentang komposisi dewan eksekutif.

Hal ini “tidak dikoordinasikan dengan Israel dan bertentangan dengan kebijakannya,” begitu keterangan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyebut pengumuman tersebut sebagai “kegagalan diplomatik bagi Israel”.

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, menulis di X: “Sektor Gaza tidak membutuhkan ‘komite administratif’ untuk mengawasi ‘rekonstruksinya’ karena yang dibutuhkan adalah membersihkannya dari teroris Hamas.”

Apa saja langkah “Dewan Perdamaian” Trump?

Fase pertama rencana perdamaian: Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata, pertukaran sandera Israel yang masih hidup dan yang telah meninggal di Gaza dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, dan peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah Israel bersikeras, mereka hanya dapat melanjutkan ke fase kedua setelah Hamas menyerahkan jenazah sandera terakhir yang tewas.

Lainnya, Hamas menolak menyerahkan senjatanya tanpa pembentukan negara Palestina merdeka, dan Israel belum berkomitmen untuk sepenuhnya menarik diri dari Gaza.

Gencatan senjata yang saat ini berlangsung juga rapuh. Lebih dari 460 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut kementerian kesehatan di Gaza, sementara militer Israel mengatakan tiga tentaranya tewas dalam serangan Palestina selama periode yang sama.

Saat ini sekitar 80% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak dan menghasilkan 60 juta ton puing-puing, menurut perkiraan PBB. Keluarga yang terpaksa mengungsi juga menghadapi cuaca dingin, tempat tinggal yang terbatas, dan kekurangan makanan.

Kelompok bantuan mengatakan ada perbaikan, tapi Israel terus memberlakukan pembatasan terhadap pekerjaan mereka.

Karena itu, pertanyaannya apakah Dewan Perdamaian Trump sungguh berniat mendorong perubahan dan mengambil langkah-langkah konkret menuju perdamaian yang berkelanjutan secara cepat? Hal ini masih harus dilihat ke depannya.

Exit mobile version